Daya Saing dan Produktivitas Indonesia dan Negara ASEAN

DAYA SAING DAN PRODUKTIVITAS INDONESIA
DAN NEGARA-NEGARA ASEAN
(Didik Prihadi Sumbodo)

Menurut laporan World Economic Forum tahun 2003-2004 daya saing Indonesia menduduki reingkat ke 37 pada tahun 1999, turun menjadi 44 tahun 2000, menurun lagi ke urutan 49 tahun 2001, merosot ke urutan 69 di tahun 2002 dan pada tahun 2003 mencapai peringkat terendah menjadi ke 72. Disini terlihat bahwa daya saing indonesia terus merosot terutama bila dibandingkan dengan negara-negara ASEAN.
Di tingkat ASEAN Singapore pada tahun 2003 dan 2002 ada di peringkat 6, Malaysia 2003 di urutan 29 turun dari 27 tahun 2002. Thailan tahun 2003 ada di urutan 32 turun dari peringkat 30 di tahun 2002, sementara Vietnam ada di peringkat 60 tahun 2003 dan menurun dari 56 di tahun 2002. Philipine ada di peringkat 66 tahun 2003 turun dari peringkat 62 di tahun 2002.
Michael Porter secara tegas menyatakan produktivitas merupakan akar penentu tingkat daya saing baik baik pada level individu, perusahaan, industri maupun pada level negara. Produktivitas sendiri merupakan sumber standar hidup dan sumber pendapatan individual maupun perkapita. Sedangkan daya saing sendiri pada dasarnya adalah kemampuan untuk menciptakan suatu tingkat kemakmuran. OECD mendefinisikan daya saing sebagai tingkat kemampuan suatu negara menghasilkan barang dan jasa yang sesuai dengan tuntatan pasar internasional dan bersamaan dengan itu kemampuan menciptakan suatu kesejahteraan berkelanjutan bagi warganya. Jadi terdapat hubungan yang sejalan antara tingkat produktivitas dan tingkat daya saing.
Menurut Survey Report APO (Asian Productivity Organization) tahun 2004, pertumbuhan GDP negara-negara ASEAN selama tahun 1980 hingga 2000 yaitu berturut-turut Singapore tumbuh rata-rata 7,12% pertahun, Malaysia 6,48%, Vietnam 6,36%, Thailand 5,93%, Indonesia 5,4% dan Philipine 2,51%. Sementara dalam periode yang sama rata-rata TFP (Total Factor Productivity) berturut turut adalah Vienam 3.27, Malaysia 1.29, Thailand 1.00, Singapore 0.78, Philipine –0.37, dan Indonesia –0.80.
Total Factor Productivity Negara ASEAN Menurut Tahun
Sumber : Survey Report APO, 2004
Pertumbuhan ekonomi suatu negara dan pertumbuhan usaha pada tingkat perusahaan merupakan sumber penciptaan lapangan kerja dan sekaligus sumber kesejahteraan. Saat ini pemerintahan Kabiner Indonesia Bersatu telah mencanangkan pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan investasi (terutama dari pemodal asing) untuk menciptakan lapangan kerja, pendapatan bagi masyarakat serta menciptakan dampak berantai (multiplier effect) tumbuhnya kegiatan usaha.
Pertumbuhan investasi dan juga investasi teknologi secara teoritis dan empiris terbukti (di masa orde baru) mampu menciptakan pertumbuhan ekonomi. Tetapi pertumbuhan yang tidak disertai dengan efisiensi ekonomi (pasar, proteksi dan subsidi yang tidak tepat, dan faktor lain) dan pengembangan potensi SDM, akan menciptakan suatu pertumbuhan ekonomi yang semu (bubble economy). Kondisi ini akan sangat rentan terhadap gelombang dan gejolak ekonomi regional dan global. Krisis ekonomi di Asia Tenggara tahun 1997 telah membuktikan Malaysia lebih tahan terhadap gejolak, Thailand mampu bangkit segera, sementara Indonesia hingga saat ini terus berjuang untuk keluar dari krisi berkepanjangan.
Pertumbuhan GDP Negara ASEAN menurut Tahun
Sumber : Survey report APO
Pertumbuhan ekonomi yang didasarkan pada pertumbuhan produktifitas, yaitu produktivitas total yang seimbang antara pertumbuhan investasi modal dan pertumbuhan SDM (human capital/ knowledge) akan menghindarkan dari pertumbuhan ekonomi yang semu. Dari tabel pertumbuhan GDP dan pertumbuhan Produktivitas di negara-negara ASEAN, Malaysia (dan juga Thailand serta Vietnam) merupakan contoh suatu pertumbuhan ekonomi yang didasarkan pada pertumbuhan produktivitas faktor total (kapital dan labor). Pertumbuhan ekonomi secara efisien (produktif) menjadi modal dasar bagi persaingan regional dan global. Gejala ini bisa dilacak dari perbandingan pertumbuhan ekspor di negara-negara ASEAN.
Terdapat 8 faktor kunci yang menetukan tingkat daya saing Indonesia yang rendah (lihat makalah Hidayat; Isu-isu produktivitas, 1 Nop 2004) antara lain
• Kebijakan ekonomi protektif yang menyebakan kurang inovatif dan harga mahal
• Peran dan prestasi lembaga-lembaga ekonomi nasional yang di bawah standar
• Perkembangan dan difusi teknologi yang berjalan lamban
• Lemahnya penegakan hukum sehingga mudah terjadi KKN
• Sifat dan struktur pasar kerja yang tidak fleksibel dan tidak dinamis
• Kompetensi SDM rendah terutama dalam teknologi informasi dan komunikasi
• Rasio modal per tenaga kerja relatif rendah
• Tingkat dan pertumbuhan produktivitas rendah (makro, mikro, partial dan total)
Peningkatan produktivitas terutama faktor total baik tingkat makro, tingkat sektoral industri, tingkat perusahaan dan tingkat individu adalah sangat menentukan kemampuan daya saing produk perusahaan pada tingkat global, regional maupun dalam negri. Peningkatan produktivitas pada tingkat individu diantara peningkatan produktivitas faltor-faktor lain, menempati posisi yang sangat penting.
Saat ini kita sedang memasuki era ekonomi pengetahuan (knowledge economy), dimana kemampuan baik secara individu maupun secara kolektif yang bersifat kemampuan untuk mendapatkan informasi yang tepat secara cepat dan memiliki daya terap dalam praktek individu maupun kolektif untuk menciptakan nilai tambah, akan menjadi faktor keunggulan dalam persaingan.
OECD mendefinisikan Ekonomi pengetahuan sebagai suatu ekonomi yang secara langsung didasarkan pada produksi, distribusi dan penggunaan knowledge dan informasi. Sementara Hossain dan Cheng Ming (2004) mendefinisikan sebagai kegiatan ekonomi dimana ada proses produksi, distribusi dan konsumsi pengetahuan yang berkelanjutan, serta adanya siklus memperluas pengetahuan terus-menerus untuk penciptaan kesejahteraan.
Implementasi dan peningkatan keunggulan dalam ekonomi pengetahuan melibatkan beberapa aktivitas dan komponen. Terdapat tiga aktivitas ekonomi pengetahuan yaitu Knowledge Production; aktivitas produksi didasarkan pengetahuan dan ide baru, Knowlede Distribution; aktivitas penyebaran pengetahuan diantara anggota masyarakat, Knowledge Consumtion; penggunaan pengetahuan untuk menciptakan nilai dan membuat pengetahuan baru dari pengetahuan yang ada.
Selain tiga aktivitas diatas, terdapat lima komponen ekonomi pengetahuan yaitu Knowledge Organization; membuat, menerima, menyebarkan, mengelola dan memanfaatkan pengetahuan, Knowledge Worker; kemampuan kreatif dan inovatif orang untuk menggunakan pengetahuan, Knowledge Goods; barang-barang yang berisi pengetahuan, Knowledge Service; yaitu service-service yang memiliki muatan kreativitas, ide baru dan ketrampilan baru, serta Knowledge Asset atau intelektual property ; yaitu mencakup kreativitas, ide-ide dan pemikiran baru, skill, hak cipta, brain power, kemampuan inovatif, smart leadership, kemampuan kewirausahaan, brand, reputasi, pengakuan, know how, know who, know what, know why, know when dan know where.
Aktivitas dan komponen-komponen ekonomi pengetahuan diatas sekarang ini menjadi faktor keunggulan dan daya saing secara regional dan global. Peningkatan produktivitas erat kaitannya dengan peningkatan kemampuan area-area aktivitas dan komponen diatas.

0 komentar:

Poskan Komentar