Kinerja Sektor-sektor Utama Indonesia:

ILO/IOE/CAPE Asia – Pacific Regional Meeting of Employers,
On Competitiveness through Productivity Improvement
(Kuala Lumpur, 14-16 September, 2004)

Country Paper – Indonesia
Performance of Indonesia`s Leading Sectors :
The Productivity Challenges Ahead
(Kinerja Sektor-sektor Utama Indonesia:
Tantangan Pengembangan Produktivitas Kedepan)

By
Didik Prihadi Sumbodo
Vice General-Secretary & Productivity Specialist
The Employers’ Association of Indonesia

Performance of Indonesia`s Leading Sectors

Menurut laporan World Bank tahun 2000, ekspor barang Indonesia ke pasar global berada pada posisi ke 26 dengan pangsa dunia sebesar 10 persen. Oleh karena itu saat ini Indonesia menghadapi dua tantangan besar, yaitu pemulihan ekonomi nasional dan persaingan global.
Masalah krusial dalam pemulihan ekonomi nasional adalah penciptaan lapangan kerja, karena jumlah penggangguran saat ini diperkirakan sudah mencapai 30 juta orang.
Sementara pangsa pasar untuk produk dan jasa yang dihasilkan dunia usaha nasional di pasar global perlu diperluas, karena peringkat daya saing perekonomian Indonesia semakin terpuruk; dari peringkat 37 pada tahun 1999, menjadi peringkat 44 pada tahun 2000, peringkat 49 pada tahun 2001, peringkat 69 pada tahun 2002, dan peringkat 72 pada tahun 2003.
Sektor Industri merupakan sektor unggulan (leading) ekspor non migas, yang memberi sumbangan antara 70% sampai 80 % dari seluruh ekspor Indonesia selama tahun 1993-2003. Perkembangan nilai ekspor industri selama kurun waktu tsb.cukup berfluktuatif dan memberi dampak signifikan terhadap kinerja ekspor total Indonesia.
Pada kurun waktu 1998-2003 yaitu periode pasca krisis perkembangan ekspor industri tumbuh rata-rata 3,36% pertahun, sementara selama kurun waktu yang sama ekspor total Indonesia tumbuh 4,29% pertahun. Begitu pula selama kurun waktu 1993-1998 yaitu periode sebelum krisis, ekspor industri tumbuh 8,68% pertahun dan ekspor total Indonesia pada periode yang sama tumbuh 9,78% pertahun.
Dari keseluruhan ekspor industri, produk Garments dan Textile merupakan produk ekspor utama (leading) Indonesia. Kedua produk ekspor ini memiliki sumbangan sebesar 17,4% dari seluruh ekspor industri pada tahun 2003. Sementara Produk Electronic Apparatus, Palm Oils, Processed Rubber, and Paper & Paper Goods merupakan produk ekspor yang memiliki sumbangan sebesar 23,6% dari seluruh ekspor industri Indonesia.
Ekspor Garments selama kurun waktu 1993-2003 tumbuh rata-rata 2,83% pertahun dan selama periode pasca krisis yaitu 1998-2003 tumbuh sangat signifikan sebesar 6,37% pertahun dengan nilai ekspor pada tahun 2000 sekitar 4737,9 Million US$. Sedangkan Ekspor produk textile sejak tahun 1993 terus mengalami kenaikan hingga puncaknya pada tahun 1998 (4739,6 Million US$). Sementara periode pasca krisis tahun 1998-2003 ekspor Textile terus mengalami penurunan rata-rata minus 7,5% dengan nilai ekspor pada tahun 2003 sebesar 3064,6 Million US$.
Perkembangan ekspor hasil pertanian Indonesia pasca krisis mengalami penurunan pada tahun 1998 (3653,5 Million US$) hingga 1999 (2901,5 Million US$), sementara mulai tahun 2001, 2002 dan 2003 menunjukkan kecenderungan meningkat. Beberapa produk unggulan agriculture antara lain Shrimps, Cocoa Beans, and Fish. Selama kurun waktu 2000-2003 ekspor shrimps terus mengalami penurunan rata-rata minus 3% pertahun. Penurunan ekspor produk agriculture ini terjadi karena produk agriculture Indonesia kalah bersaing dengan di pasar ekspor dengan produk pertanian dari negara China, Malaysia dan Thailand.
Negara tujuan ekspor utama Indonesia adalah Jepang dengan kontribusi 22 % pada tahun 2003 (13,603,4 Million US$), ASEAN dengan kontribusi 17% (10,725 Million US$), United State dengan kontribusi 12% (7,373.7 Million US$), dan Eropa dengan kontribusi 13% (7`956.7 US$). Dari segi peluang dan kecenderungan pertumbuhan ekspor selama kurun waktu 1993-2003 antara lain ekspor ke ASEAN yaitu Malaysia (tumbuh rata-rata 12,5% pertahun, Thailand (tumbuhn10,52% pertahun); ekspor ke Australia (tumbuh 9,77% pertahun); ekspor ke Spain (tumbuh 9,46% pertahun); dan ekspor ke negara-negara Afrika (tumbuh 9,95% pertahun).
Selama kurun waktu 1993-2003 rata-rata pertumbuhan ekspor Indonesia tumbuh 4,49% pertahun dengan nilai ekspor total 61,058,3 Million US$ pada tahun 2003. Sementara selama kurun waktu yang sama yaitu 1993-2003 rata-rata pertumbuhan impor tumbuh 8,96% pertahun dengan nilai impor total 32,550.7 Million US$ pada tahun 2003. Pertumbuhan penetrasi barang impor ke Indonesia terutama terjadi selama kurun waktu 2000-2003. Hal ini terjadi karena meningkatnya kebutuhan domestik, produk impor lebih murah karena beberapa negara nenetapkan praktek dumping dengan memberi subsidi bagi produk-produk ekspor negara tsb.; dan membajirnya produk-produk impo yang masuk lewat penyelundupan..
Globalisasi dan perdagangan bebas menuntut adanya keterbukaan ekonomi suatu negara terhadap kegiatan perdagangan antar negara. Bagi Indonesia ekspor diharapkan menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi namun hingga saat ini belum optimal. Salah satu penyebabnya adalah kondisi dalam negeri yang masih belum stabil dan kegiatan ekspor masih dipengaruhi kondisi pasar di luar negeri khususnya negara tujuan ekspor yang mengalami kondisi ekonomi stagnasi seperti Amerka Serikat dan Jepang.
Untuk meningkatkan pertumbuhan ekspor Indonesia, telah ditempuh antara lain menghilangkan hambatan di bidang ekspor, kebijakan deregulasi yang mendorong keunggulan ekspor, diversifikasi komoditi ekspor dan diversifikasi negara tujuan ekspor, meningkatkan standar mutu produk. Selain itu untuk meningkatkan daya saing terutama produk ekspor utama Indonesia di pasar internasional yaitu dengan meningkatkan berbagai produktivitas tenaga kerja. Dengan meningkatkan produktivitas pekerja, produk dan jasa yang dihasilkan akan lebih kompetitif sehingga berdampak positif terhadap perkembangan usaha dan penyerapan tenaga kerja.
Inisiatif APINDO untuk meningkatkan Produktivitas dan Competitiveness
Untuk meningkatkan daya saing (competitiveness) baik pada pasar lokal maupun internasional, APINDO telah melakukan dan sedang mengupayakan beberapa tindakan (action) baik pada tingkat makro (policy bekerjasama dengan pemerintah) maupun pada tingkat mikro antara lain :
1. Melakukan penelitian kebijakan (policy research) untuk mengevaluasi berbagai peraturan daerah (PERDA) yang kontradiktif dan kontra-produktif yang dapat menghambat pertumbuhan dan investasi industri, menyebabkan biaya ekonomi tinggi sehingga menyebabkan harga jual produk domestik menjadi lebih mahal dibanding dengan harga internasional.
2. Menggalang kerjasama dengan Departement Keuangan Indonesia untuk merancang draft tentang reformasi pajak dalam rangka meningkatkan iklim investasi yang menarik, menyederhanakan administrasi dan birokrasi perpajakan, rancangan pemberian insetif pajak bagi pembayar pajak yang patuh, serta menghilangkan prosedur yang berpeluang terjadinya koropsi dan kolusi.
3. Bekerjasama dengan Departemen Perhubungan, Departemen Perindustrian dan Perdagangan untuk melakukan Penelitian Kebijakan (policy research) dalam rangka meningkatkan produktivitas pelabuhan-pelabuhan utama di Indonesia, melalui pengkajian berbagai kebijakan dan prosedur yang menghambat kegiatan ekspor dan impor.
4. Bekerjasama dengan Departemen Tenaga Kerja untuk menyususun dan mereview berbagai draft Undang-Undang Ketenagakerjaan, Peraturan Menteri dalam rangka menciptakan iklim usaha dan iklim kerja yang transparan dan produktif. Selain itu APINDO secara proaktif melakukan pencegahan dan penolakan beberapa Peranturan Menteri Tenaga Kerja yang kontradiktif, mengahmabt dan merugikan kelangsungan dunia usaha.
5. Bekerjasama dengan Lembaga Penelitian untuk mengadakan penelitian metoda pengupahan (Upah Minimum Propinsi) dan mengusulkan kepada Pemerintah dan Serikat Pekerja tentang penetapan upah minimum dan upah rata-rata ditetapkan pada tingkat perusahaan dengan mempertimbangkan kemampuan dan kelangsungan perusahaan.
6. Dalam rangka meningkatkan daya saing internasional dan meningkatkan efisiensi dan produktivitas perusahaan, APINDO telah me-launching GLOBAL COMPACT, membentuk Komite Apindo-Global Compact untuk secara aktif mensosialisasikan, mengadakan berbagai seminar, melakukan pendidikan dan melakukan asistensi bagi perusahaan-perusahaan di Indonesia dalam rangka penerapan Global Compact.
7. Bekerjasama dengan Departemen Tenaga Kerja, Kamar Dagang Indonesia dan dibantu dengan beberapa lembaga internasional di Indonesia, telah merintis terbentuknya Lembaga Produktivitas yang bersifat Nasional yang diprakarsai oleh dunia usaha di Indonesia. Kegiatan utama dari task force yang mempersiapkan lembaga tsb. Saat ini antara lain membangun awareness melalui berbagai kegiatan seminar, menyususun strategic plan, menerbitkan news letter; membangun metodologi pengukuran Total Factor Productivitas (TFP) maupun Partial Factor Productivity (PFP) serta melakukan research produktivitas pada beberapa sektor industri pengolahan untuk merumuskan Upah Minimum Regional dan kenaikan berkala berdasarkan tingkat produktivitasnya.
8. Untuk membangun capablilitas pelaku bisnis dan pekerja, APINDO telah memprakarsai dan mendorong peningkatan produktivitas pada tingkat individu melalui berbagai program pelatihan tentang technical, skill managerial, industrial relation , safety- Health and Environment, serta kerjasama program pengayaan pengalaman (experiencing) dengan berbagai institusi lokal dan international.

0 komentar:

Poskan Komentar