Indikator-indikator Penting dalam Analisis Informasi Pasar Tenaga Kerja

ASEAN-ILO Technical Workshop on Labour Statistics:
Setting Priorities for Enhance Knowledge and Regional Cooperation
29 – 30 October 2007, Putrajaya, Malaysia

Country Paper – Indonesia
Indikator-indikator Penting dalam Analisis Informasi Pasar Tenaga Kerja,
The Employers’ Association of Indonesia Perspective

By
Didik Prihadi Sumbodo
Vice Secretary General APINDO
(The Employers’ Association of Indonesia)

1. Kondisi Pasar Tenaga Kerja Indonesia
Tantangan utama pembangunan Indonesia saat ini adalah bagaimana mempercepat pemulihan ekonomi nasional pasca krisis tahun 1998 dan persaingan global. Masalah krusial dalam pemulihan ekonomi nasional antara lain adalah penciptaan lapangan kerja; hal ini karena jumlah penggangguran saat ini diperkirakan sudah mencapai lebih dari 11,1 juta orang.
Pasar tenaga kerja Indonesia ditandai setidaknya oleh 3 hal. Pertama, pasar kerja Indonesia adalah pasar kerja yang dualistic, yaitu lapangan kerja formal/ modern yang besarnya sekitar 30% dari seluruh angkatan kerja; disisi lain ada lapangan kerja informal yang besarnya sekitar 70% dengan produktivitas yang lebih rendah dibandingkan dengan lapangan kerja formal. Kedua, kebanyakan dari angkatan kerja tsb tidak trampil, hal ini tercermin dalam distribusi angkatan kerja berdasarkan pendidikan dimana 54% adalah lulusan SD atau tidak tamat, sedangkan lulusan perguruan tinggi hanya 2,7%. Ketiga, Indonesia adalah Negara dengan angkatan kerja yang besar (labor surplus country) dimana jumlah angkatan kerja 106,3 juta dengan pengangguran terbuka sebesar 11,1 juta.
Perkembangan terakhir dari kondisi pasar tenaga kerja Indonesia antara lain; Pertama, lapangan kerja formal menciut di kota maupun desa. Dari data tahun 2003 lapangan kerja formal menciut sebesar 1,2 juta (sekitar 656 ribu di kota dan sekitar 564 di desa), sedangkan tahun 2002 menciut 1,5 juta (sekitar 400 ribu di kota dan 1,1 juta di desa). Kedua, timbulnya perbedaan upah yang semakin besar antara pekerja formal dan informal. Sebelum tahun 1998 upah pekerja informal mengikuti pola upah pekerja formal tetapi setelah periode tsb. Perubahan upah di sektor informal terus mengalami perbedaan yang semakin jauh. Ketiga, ada indikasi terjadinya penurunan produktivitas di Industri pengolahan, dilain pihak terjadi peningkatan upah yang lebih besar dari nilai tambah yang diciptakannya (produktivitas). Keempat, terjadi peningkatan pengannguran usia muda berumur antara 15 – 19 tahun. Tingkat pengangguran usia muda ini terus meningkat dari 20,6% tahun 1999, menjadi 23,5% tahun 2000, 28,7% tahun 2001, 34,6% tahun 2002, dan meningkat lagi menjadi 36,7% tahun 2003.
Dalam menghadapi situasi ini, pemerintah Indonesia telah mengambil langkah-langkah untuk mengatasinya, antara lain : Pertama, memperbaiki aturan main yang berkaitan dengan ketenagakerjaan seperti aturan main yang berkaitan dengan rekrutmen dan oursourcing, pengupahan (wages), pemutusan hubungan kerja (dismisal), perlindungan pekerja yang berlebihan (excessive protection of workers). Kedua, meningkatkan kualitas SDM, yaitu dengan peningkatan kualitas pendidikan dengan program belajar wajib 9 tahun. Ketiga, memperbaiki kebijakan penciptaan kesempatan kerja dari sisi permintaan, yaitu dengan mendorong dunia usaha dalam meningkatkan kapasitas disertai dengan menerapkan kebijakan penurunan biaya transaksi. Keempat, memperbaiki kebijakan penciptaan kesempatan kerja dari sisi penawaran; yaitu diberikannya akses kepada para penganggur di daerah melalui penciptaan lapangan kerja pekerjaan umum (public works). Kelima, pemerintah memfasilitasi migrasi tenaga kerja, hal ini dapat berupa migrasi internal di dalam negri atau migrasi eksternal ke luar negri.
2. Indicators Utama dalam Analisis Informasi Pasar Tenaga Kerja
Pasar tenaga kerja adalah seluruh aktivitas dari pelaku-pelaku yang mempertemukan pencari verja dan lowongan verja. Pelaku-pelaku ini terdiri atas (1) pengusaha yang membutuhkan tenaga, (2) pencari kerja, dan (3) perantara atau pihak-pihak ketiga yang memberikan kemudahan bagi pengusaha dan pencari kerja untuk saling berhubungan.
Proses mempertemukan pencari kerja dan lowongan kerja ini memerlukan waktu; karena; Pertama, pencari kerja memiliki tingkat pendidikan, ketrampilan, kemampuan dan sikap pribadi yang berbeda. Dilain pihak setiap lowongan yang tersedia mempunyai sifat pekerjaan yang berlainan. Dengan demikian tidak semua pelamar cocok dan mampu mengisi lowongan kerja yang dibutuhkan. Kedua, setiap perusahaan menghadapi lingkungan yang berbeda; input, output, manajemen, teknologi, lokasi, pasar dan lain-lain, sehingga mempunyai kemampuan yang berbeda dalam memberikan tingkat upah, jaminan social dan lingkungan pekerjaan. Dengan demikian tidak semua pekerja bersedia menerima pekerjaan dengan tingkat upah tertentu. Dilain pihak tidak semua pengusaha mampu dan bersedia mempekerjakan seseorang dengan upah yang diharapkan pelamar. Ketiga, baik pengusaha maupun pencari kerja sama-sama mempunyai informasi yang terbatas mengenai lowongan kerja dan pencari kerja. Kenyataan ini menunjukkan bermacam-macam pasar tenaga kerja, bukan homogen sebagaimana asumsi Neo-klasik.
Mengingat bahwa terdapat banyak macam pasar tenaga kerja, maka dalam analisis pasar tenaga kerja perlu analisis menyeluruh antara lain ; Pertama,, analisis primary labor market (sektor modern/ perkotaan) dan secondary labor market (tradisional/ pedesaan). Kedua, Pasar tenaga kerja Intern dan Ekstern, yaitu bagaimana suatu lowongan pekerjaan dalam suatu perusahaan dapat diisi dengan orang yang ada dan sesuai. Sesuai berati mampu melakukan fungsinya dan memanuhi persyaratan pendidikan. Ketiga, pasar tenaga kerja terdidik dan tak terdidik. Tenaga terdidik biasanya memiliki tingkat produktivitas dan upah yang tinggi, elastisitas lebih kecil, tingkat partisipasi kerja lebih tinggi. Keempat, pasar tenaga kerja sektor formal dan informal. Sektor formal biasanya ditandai kegiatan usaha sederhana, skala usaha relatif kecil, bekerja di sektor informal lebih mudah, tingkat penghasilan lebih rendah, dan sangat beraneka ragam bentuknya.
Sistem informasi pasar tenaga kerja secara komprehensif perlu dikembangkan, dengan demikian informasi tersebut memungkinkan para pengambil keputusan untuk memonitor perkembangan dalam berbagai pasar tenaga kerja serta menganalisis implikasi employmen-nya dari berbagai alternatif kebijakan. Informasi tentang pasar tenaga juga sangat bermanfaat bagi perusahaan terutama dalam melakukan perenaan investasi pengembangan usaha dan bisnis. Kenyataan menunjukkan bahwa selama ini banyak pengusaha sulit mendapatkan informasi yang memadai tentang pasar tenaga kerja secara menyeluruh, mengingat keterbatasan dalam hal tidak up date-nya data, tidak sersedianya data secara detil, selain itu juga sulit untuk melakukan perbandingan.
Dengan memiliki sistem informasi pasar tenaga kerja yang lengkat dapat dipergunakan untuk berbagai tujuan seperti; Pertama, untuk kegiatan antar-kerja, yaitu mempertemukan pencari kerja dengan lowongan kerja. Kedua, untuk program dan proyek-proyek perluasan kesempatan kerja. Ketiga,sebagai bahan pertimbangan untuk penyusunan rencana pembangunan. Keempat, penyusunan rencana tenaga kerja. Kelima, bahan untuk menyusun rencana pendidikan. Keenam, untuk menyusun rencana kebutuhan pelatihan. Ketujuh, untuk menyusun kebijakan ekonomi.
3. Pengembangan statistik dan informasi pasar Tenaga Kerja
Ketersediaan data tentang pasar tenaga kerja dan employment yang komprehensif, secara regular terupdate, di semua aspek utama sangat perlu untuk ditingkatkan, Selanjutnya system informasi pasar tenaga kerja secara komprehensif perlu dikembangkan sehingga memungkinkan para pengambil keputusan yaitu pemerintah dan pelaku usaha dapat memantau perkembangan dalam pasar tenaga kerja secara nyata.
Kerjasama antar lembaga dalam negara masing-masing diantara berbagai institusi, lembaga pemerintah, lembaga swadaya masyarakat maupun kerjasama antar institusi antara negara akan sangat besar manfaatnya dalam membangu suatu informasi pasar tenaga kerja tidak saja nasional tetapi juga regional dan dengan demikian dapat dilakukan perbandingan antara suatu negara dengan negara lain; indikator dual labor markt, pasar tenaga kerja terdidik dan tidak terdidik, sektor pemerintah dan swasta, sektor formal dan informal, begitu juga dikaitkan indikator tentang produktivitas dan pengupahan menurut jenis usaha.

0 komentar:

Poskan Komentar